BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Erosi
adalah suatu perubahan bentuk batuan, tanah atau lumpur yang disebabkan oleh kekuatan
air hujan . Angin yang berhembus kencang terus-menerus dapat mengikis batuan di
dinding-dinding lembah. Di daerah tropis basah, media penyebab erosi yang umum
adalah air (Anonim, 2007).
Secara
umum dapat dikatakan bahwa erosi merupakan proses terlepasnya butiran tanah dari induknya disuatu
tempat dan terangkutnya material tersebut oleh gerakan air atau angin, kemudian diikuti dengan pengendapan
material yang terangkut di tempat yang lain. Bahaya erosi banyak terjadi di
daerah kering terutama yang memiliki kemiringan lereng sekitar 15% atau lebih. Keadaan ini sebagai
akibat dari pengelolaan tanah dan air yang keliru, tidak mengikuti kaidah- kaidah konservasi tanah dan air (Kodoatie, 2010 : 162).
Air hujan
yang menimpa tanah-tanah terbuka akan menyebabkan tanah terdispersi. Sebagian
dari air hujan yang jatuh tersebut akan mengalir di atas permukaan tanah.
Banyaknya air hujan yang mengalir diatas permukaan tanah tergantung pada
hubungan antara jumlah dan intensitas hujan dengan kapasitas infiltrasi tanah
dan kapasitas penyimpanan air tanah. Kekuatan perusak air yang mengalir diatas
permukaan tanah akan semakin besar dengan semakin curam dan makin panjang
lereng permukaan tanah.Tumbuh-tumbuhan yang hidup diatas permukaan tanah dapat
memperbaiki kemampuan tanah menyerap air dan memperkecil kekuatan perusak
butir-butir hujan yang jatuh, dan daya dispersi dan angkut aliran air di atas
permukaan tanah. Perlakuan atau tindakan-tindakan yang diberikan manusia
terhadap tanah dan tumbuh-tumbuhan di atasnya akan menentukan apakah tanah itu
akan menjadi baik dan produktif atau menjadi rusak (Arsyad, 1983).
Daerah Mollo adalah daerah pegunungan yang
beriklim tropis, di mana daerah pegunungan sangat mudah mengalami erosi, hal
inilah yang mendorong saya untuk melakukan penelitian di daerah Mollo
untuk mencari tahu tingkat erosi dengan tingkat kemiringan 450
dengan kondisi tanah yang ada di Desa Eonbesi,Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten
Timor Tengah Selatan dan yang terpenting untuk melakukan penelitian ini adalah
dengan adanya cara bertani yang tidak memperhatikan kondisi tanah yang mudah
tererosi, pengolahan tanah tanpa memperhitungkan akan adanya erosi, dan yang terburuk
adalah tidak adanya sistem konservasi tanah.dari situlah saya ter’inspirasi
untuk melakukan identifikasi atau perhitungan erosi langsung di lapangan.
Ada satu hal terpenting yang mendorong saya
untuk semangat dalam penelitian ini adalah belum adanya penelitian yang
berhubungan dengan erosi lahan di Desa Eonbesi Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan.Dari dasar
pemikiran diatas, maka peneliti tertarik mengambil judul Penelitian:’’Studi
Tingat Erosi Lahan di
Desa Eonbesi Kecamatan
Mollo Utara Kabupaten
Timor Tengah Selatan’’.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang
dikemukakan diatas diperoleh rumusan masalah yaitu bagaimana tingkat erosi di Desa Eonbesi Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan.
1.3.Batasan
Masalah
Penelitian ini
di lakukan di desa Eonbesi Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah
Selatan.pada lahan yang telah dilakukan pengolahan tanah primer.
1.4.Tujuandan Manfaat
1.4.1.Tujuan
Adapun tujuan dalam penelitian Ini, adalah untuk
mengetahui tingkat erosi pada lahan yang telah di lakukan Pengolahan Tanah
Primer Di Desa Eonbesi Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan
1.4.2.Manfaat
Manfaat dari penelitian
ini adalah sebagai bahan informasi dan bahan pertimbangan bagi pemerintah
daerah,petani ataupun pihak-pihak yang membutuhkan informasi tentang tingkat
erosi yang terjadi sehingga dapat dengan mudah menentukan pola pertanian serta
penerapan teknik-teknik konservasi tanah dan air pada lahan pertaniannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Erosi
Erosi tanah melalui tiga tahap, yaitu tahap(1)
pelepasan partikel tunggal dari massa tanah dan tahap (2) pengangkutan oleh
media yang erotif seperti aliran air dan angin pada kondisi di mana energi yang
tersedia tidak lagi cukup untuk mengangkut partikel, maka akn terjadi tahap (3)
yaitu pengendapan( Suripin,2001).
Menurut wudianto(2000). Erosi bisa terjadi apabilah
intensitas hujan yang turun lebih tinggi di banding kemampuan tanah untuk menyerap
air hujan.Prosesnya di mulai dari penghancuran agregat tanah dan pelepasan
partikel di lanjutkan pengangkutan tanah oleh aliran air, dan terakhir adalah
pengendapan tanah akibat aliran air tidak mampu lagi mengangkut tanah.
Menurut meyer dan wischmeleier dalam suripin(2001),
proses terjadinya erosi di suatu lereng di hancurkan dahulu oleh curah hujan
dan aliran permukaan, setelah tanah hancur baru di angkut ke tempat lain oleh
air hujan dan aliran permukaan.
Pada suatu lereng terdapat input tanah yang dapat di
erosi yang berasal dari tanah bagian atas lereng serta pelepas tanah oleh curah
hujan dan aliran permukaan. Selain itu terdapat autput akibat pengangkutan
tanah oleh curahan air hujan dan aliran permukaan. Bisa di artikan jika total
patikel tanah yang terlepas lebih kecil dari total kapasitas pengangkutan(
tanah terlepas< kapasitas angkut). Maka akan terjadi erosi. Sebaliknya jika
total partikel tanah yang terlepas tersebut lebih besar dari total kapasitas
pengangkutan( tanah terlepas> kapasitas angkut) maka akan terjadi
pengendapan di bagian lereng tersebut.
Menurut baver dalam kartasapoetra, dkk. (1985),
terjadinya erosi tanah tergantung pada (a) sifat-sifat hujan,(b) kemiringan
lereng,(c) vegetasi, dan (d) kemampuan tanah untuk menahan air, serta mengisap
air dan menginfiltrasikan ke lapisan-lapisan tanah bagian dalam.
Kusumastuti(1994), dalam penelitian menjelaskan,
bahwa intensitas dan kemiringan lereng merupakan parameter yang berpegaruh
besar terhadap kwantitas erosi. Pada kemiring lereng yang sama, Intensitas
hujan meningkat, akan mengakibatkan peningkatan erosi. Begitu juga sebaliknya
pada intensitas hujan yang sama, sudut kemiringan lereng meningkat, juga akan
di ikuti peningkatan erosi.
Banuwa (2001) dalam penelitian menjelaskan,
intensitas hujan dan kemiringan lereng sangat nyata mempengaruhi dinamika
aliran permukaan dan erosi.Semakin besar itensitas hujan maka energi tumbuk
butir-butir hujan semakin besar, sehingga kemampuan untuk memecah agregat tanah
semakin besar. Begitu juga kedalam hujan (volume hujan) dan kecepatan aliran
yang di akibatkan oleh kemiringan lereng juga mempercepat aliran permukaan,
sehingga kapasitas transportasinya untuk membawa bahan-bahan tanah semakin
besar yang gilirannya juga akan memperbesar erosi. Dari penelitiannya juga menyimpulkan
peningkatan intensitas hujan 1mm/jam menyebabkan peningkatan kedalaman hujan
0,03-0,23mm dan erosi 0,02-0,31 ton/ha
2.2.
Bentuk-bentuk Erosi
Bentuk-bentuk erosi yang di temukan oleh
hardjowigena(1995) mengatakan erosi di bedakan menjadi dua macam yaitu erosi
geologi( geological erosion) dan erosi di percepat (accelerated erosion) erosi
giologi merupakan erosi yang berjalan sangat lambat di mana jumlah tanah yang
tererosi sama dengan jumlah tanah yang terbentuk dan tidak berbahaya karena terjadi dalam
keseimbangan alami, sedangakan erosi dipercepat merupakan erosi yang di
percepat, hal ini di sebabkan oleh kegiatan manusia yang mengganggu
keseimbangan alam, jumlah tanah yang tererosi lebih banyak dari pada tanah yang
terbantuk sehingga tanah di permukaan( TOP SOIL) menjadi hilang.
Menurut Handjowigeno(1995), bentuk erosi
atau jenis-jenis erosi di paparkan sebagai berikut:
1. Pelarutan,
terjadi pada tanah kapur yang mudah di larutkan air sehingga di daerah kapur
sering di temukan sungai-sungai di bawah tanah.
2. Erosi
percikan, (splash erosion), curah hujan yang jatuh langsung ke tanah dapat
melempar butir-butir tanah ke udara sampai beberapa cm tergantung diameter
butiran hujan dan kondisi lahan, di daerah yang berlereng tanah yang terlempar
tersebut jatuh ke lereng di bawahnya.
3. Erosi
lembar (sheet erosion), peindahan tanah terjadi lembar demi lembar, lapis demi
lapis mulai dari lapis paling atas. Erosi ini sepintas tidak terlihat, karena
kehilangan lapisan-lapisan tanah seragam, tetapi dapat berbahaya karena pada
suatu saat seluruh top soil akan habis.
4. Erosi
alur(riil erosion), erosi ini di mulai dari genangan-genangan kecil setempat di
suatu lereng, maka bila air dalam genangan tersebut mengalir, terbentuklah
alur-alur bekas aliran air tersebut. Alur-alur tersebut mudah di hilangkan
dengan pengolahan tanah biasa.
5. Erosi
gully(gully erosion), erosi ini merupakan lanjutan dari erosi alur, karena alur
yang terus- menerus di gerus oleh aliran air terutama daerah-daerah yang banyak
hujan, maka alur-alur tersebut menjadi dalam dan lebar yang mengakibatkan oleh
aliran air yang kuat. Alur-alur tersebut tidak dapat hilang dengan pengolahan
tanah biasa.
6. Erosi
parit(channel erosion), parit-parit yang besar sering masih terus mengalir lama
setelah hujan berhenti, aliran air dalam parit ini dapat mengikis dasar parit
atau dinding-dinding(tebing) parit di bawah permukaan air, sehingga tebing di
atasnya dapat runtuh ke dasar parit.
7. Longsor,
tanah longsor terjadi karena gaya gravitasi, biasa di bagian bawah tanah
terdapat lapisan licin dan kedap air(sukar di tembus air) seperti batuan liat.
Saat musim hujan tanah di atasnya menjadi jenuh air, sehigga tanah menjadi
lebih berat dan akan bergeser ke bawah melalui lapisan yang licin tersebut
sebagai tanah longsor.Curah hujan yang lama dengan intensitas yang besar dapat
memberikan efek erosi yang besar dalam kondisi ini tanah telah jenuh air dan
akan mengalirkanair melalui perukaan tanah.
2.3.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Erosi
Banyak faktor
yang mempengaruhi besarnya erosi, menurut hardjowigeno(1995), ada 5 faktor yag
mempengaruhi besarnya erosi tersebut antara lain (1) curah hujan, (2) kepekaan
tanah,( 3) lereng, (4) vegetasai, (5) manusia.
2.3.1.
Curah Hujan
Sifat-sifat
hujan yang perlu di perhatikan dalam hal ini adalah butiran hujan, intensitas
hujan, jumlah hujan, dan distribusi hujan. Butiran hujan sangat berfariasi,
dalam penelitian ini bitiran hujan akan di ambi diameter 1mm-6mm. menurut
Arsyad (1982), butiran hujan akan mendapat tahanan udara sehingga butiran akan
pecah menjadi lebih kecil, inilah sebabnya butiran hujan pada umumnya
diameternya tidak lebih dari 7mm,yang jelas butiran hujan akan berpengaruh
terhadap kecepatan jatuhnya, semakin besar diameter butiran hujan berarti
kecepatan jatuh butiran juhan meningakat. Besarnya butiran hujan adalah volume
air yang jatuh pada suatu areal tertentu, oleh arena itu besarnya curah hujan
dapat di nyatakan dalam tinggi air yaitu milli meter(mm).
Intensitas hujan akan menunjukan tingginya curah
hujan per satuan waktu, yang mana di nyatakan dalam mm/jam atau cm/jam. Jumlah
hujan akan menunjukan banyaknya air hujan selama terjadi hujan selama kurun
waktu tertentu, sedangkan distribusi hujan akan menunjukan penyebaran waktu
terjadinya hujan.Sifat-sifat hujan tersebut yang besar pengaruhnya terhadap
erosi adalah intensitas hujan. Menurut Arysad
(1982), intensitas hujan dapat diklasifikasikanseperti Tabel di bawah ini.
Tabel 1. Klasifikasi Intensitas Hujan
Intensitas(mm/jam)
|
Klasifikasi
|
0-5
|
Sangat
kecil
|
6-10
|
Kecil
|
11-25
|
Sedang
|
26-50
|
Agak
besar
|
51-75
|
Besar
|
>75
|
Sangat
besar
|
2.3.2.Kepekaan Tanah
Bennet,
dalam Arsyad (1982) adalah merupakan orang pertama yang mengemukakan
adanya perbedaan kepekaan untuk tanah tererosi, dari berbagai jenis tanah yang
berbeda. Kepekaan erosi tanah dalam bahasa Inggris dinyatakan sebagai “soil
erosivity” oleh Middleton(1930) dan oleh Cook (1936) di sebut “soil erodibility”.
Middleton merupakan orang pertama yang menyajikan indeks erodibitas tanah
berdasarkan data analisa laboratorium. Tanah di lapangan di bedakan menjadi
tanah peka terhadap erosi dan tanah tahan terhadap erosi, sifat-sifat tanah
yang mempengaruhi kepekaan tanah terhadap erosi antara lain, tekstur tanah,
bentuk dan kemantapan tekstur tanah,
kapasitas infiltrasi atau perbeabilitas tanah, dan kandungan bahan organik.
Tekstur tanah, tanah dengan tekstur yang kasar akan
tahan terhadap erosi karena butiran tanahnya besar sehingga memerlukan beban
yang besar pula dalam pengangkutannya. Tanah dengan tekstur halus seperti tanah
liat juga tahan terhadap erosi karena daya kohesinya kuat, sehingga gumpalannya
sukar di hancurkan.Sedangkan tekstur tanah yang paling peka terhadap erosi
adalah debu (0,002-0.05mm) dan pasir yang sangat halus (0.5-0.01mm), makin
tinggi kandungan debu dalam tanah maka makin peka tanah itu terhadap erosi.
Bentuk tektur tanah yang memebulat seperti:
granuler, remeh, dan gumpal membulat akan menghasilkan tanah dengan porositas
tinggi sehingga air mudah meresap ke dalam tanah dan aliran permukaan menjadi
kecil. Untuk struktur tanah yang tidak mantap maka akan mudah hancur menjadi
butiran halus jika terkena pukulan air hujan, yang akhirnya menyumbat pori-pori
tanah yang akibatnya aliran permukaan meningkat, sehingga aliran permukaan
meningkat.
Kapasitas infiltrasi tanah yang besar, menunjukan
air mudah meresap ke dalam tanah, sehingga aliran perukaan menjadi kecil,
akibatnya erosi juga kecil. Kapasitas infiltrasi tanah ini di pengaruhi oleh
porositas dan kemantapan tekstur tanahnya. Sedangkan kandungan bahan organik
tanah akan menentukan kepekaan tanah terhadap erosi, tanah yang cukup
mengandung bahan organik umumnya tekstur tanahnya menjadi mantap, sehingga
tahan terhadap erosi.
Bahan organik pada umumnya di temukan di lapisan
tanah bagian atas (top soil)menurut Suripin(2001), jumlah bahan organik ini tidak besar kurang lebih berkisar 3%
samapai 5%, namun hal ini sangat memegang peranan penting dalam menentukan
sifat-sifat tanah.
Coster, dalam Arsyad(1982)
dalam penelitiannya di berbagai tempat di pulau jawa menunjukan bahwa tanah
regosol dari bahan volkan dan tanah grumosol dari bahan induk mergel merupakan
tanah yang peka erosi di bandingkan dengan tanah andosol atau tanah latosol
yang terbentuk dari volkan. Penetapan kepekaan erosi berbagai tanah secara
nisbi dari pengamatan lapangan adalah sulit, suatu tanah yang mempunyai suatu
kepekaan rendah mungkin akan mengalami erosi yang berat jika tanah tersebut
terletak pada lereng yang curam dan panjang serta dengan curah hujan dengan
intensitas yang selalu tinggi. Sebaliknya suatu tanah yang kepekaan erosi
tinggi, mungkin memperlijatkan gejala erosi yang rendah atau tidak perlihatkan
adanya erosi jika terdapat pada lereng yang landai, dengan tanaman penutup
tanah yang baik dan hujan yang tidak berintensitas tinggi.
Menurut Hardjowigeno (1995), makin tinggi nilai
faktor erodibitas tanah (k), tanah makin peka terhadap erosi. Di bawa disajikan
table nilai factor erodibilitas tanah (k) untuk beberapa jenis tanah di Indonesia.
Tabel 2. Nilai Erodilitas(K) untuk Beberapa Jenis Tanah di Indonesia
No
|
Jenis
Tanah
|
Nilai
K
|
1
|
Latosol(oxic sub group)
|
0,02 gram/joule
|
2
|
Mediteran merah kuning(alfisol)
|
0,05 gram/joule
|
3
|
Mediteral(alfisol)
|
0,21 gram/joule
|
4
|
Podsolid merah kuning( ultisol)
|
0,15 gram/joule
|
5
|
Regosol(inceptisol,entisol)
|
0,11 gram/joule
|
6
|
Grumosol( vertisol)
|
0,24 gram/joule
|
Untuk mendapatkan nilai K denga cara pengukuran
erosi dan curah hujan dilapangan akan memakan waktu dan biaya yang mahal, maka Wischmeier (1969), menggunakan suatu cara
dalam pendugaan nilai faktor
K dengan memakai 5 parameter, yaitu:
1. Kandungan
debu (%) + kandungan pasir sangat halus (0,05-0,10mm),
2. Kandungan
pasir, prosen pasir (0,10-0,2,0mm),
3. Tanah,
kandungan bahan organic (0) dalam %,
4. Struktur
tanah S dan,
5. Perbeabilitas
tanah (P)
2.3.3.Lereng
Lereng yang semakin curam dan semakin panjang akan
meningkatkan besarnya erosi, jika lereng semakin curam maka kecepatan aliran
permukaan meningkat sehingga daya angkutnya juga meningkat. Lereng yang semakin
panjang,berarti volume air yang mengalir semakin besar. Sehingga kecepatan
aliran juga semakin besar dan beda yang bisa di angkut akan lebih banyak.Tabel 3.di
bawah menunjukan besarnya erosi dari kemiringan tanah yang ada dengan curah hujan500mm
dan lamanya 164 jam.
Table
3. Pengaruh Kemiringan Tanah terhadap
Erosi(curah hujan 500mm, lamanya 164 jam)
Kemiringan
tanah (%)
|
Erosi
(ton/ha)
|
Pertambahan
erosi (%)
|
5
|
33,25
|
0,00
|
10
|
100,25
|
201,5
|
15
|
167,75
|
67,33
|
20
|
228,25
|
36,06
|
Sumber: warnet
2.4.Sifat
Umum Tanah
Tanah menurut bahan asalnya dapat di bagi menurut
dua kelompok, yaitu tanah mineral tanah organik.Tanah mineral berasal dari
sisa- sisa tanaman maupun hewan telah mati.(Abdullah,1993). Sedangkan Hardjowigeno (1995), mengatakan tanah
merupakan kumpulan dari benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam
horizon-horison, terdiri dari campuran
media untuk tumbuhnya tanaman .
Tanah merupakan bahan atau material yang tidak homogen dan terdiri dari berbagai
parikel padat dan rongga ( pori-pori). Padat partikel di antaranya berupa
butiran-butiran sedangkan pori-pori tanah berupa udara, air atau campuran udara
dan air. Nama butiran atau istilah kerikil, pasir, lanau dan lempeng di gunakan
untuk menggambarkan ukuran partikel pada batas tanah yang telah di tentukan,
kebanyakan jenis tanah terdiri dari banyak lebih dari satu macam ukuran
partikel, begitu juga istilah atau nama-nama tanah yang di gunakan banyak
sekali jenisnya dan satu di anataranya adalah jenis tanah regosol kelabu dan jenis
tanah ini yang di gunakan dalam penelitian.
2.5.Sifat-Sifat
Tanah Regosol Kelabu
Dalam
cerita kuno sering di katakan bahwa bumi nusantara ini adalah tanah yang subur gemah ripah lohjinawi, hal
ini tidak semuanya benar, karena dalam kenyataannya masih banyak juga tanah
yang tidak subur yang sering di sebut tanah marginal, tanah yang demikian
rendah kandungan unsure haranya dan bereaksi masam. Tanah yang subur pada
umumnya tanah-tanah berasal dari gunung berapi atau bahan aluvial baru.
Jenis-jenis tanah (great group) menurut sistem pusat penelitian tanah (dalam Ilmu
Tanah Hardjowigeno, 1995) meliputi: argonosol,litosol, rendsina, grumosol,
greisol, aluvial, arenosol, andosol, latosol, brunizem, kambisol, nitosol,
podsolik, mediteran, planosol, podsol, oksisol dan regosol.
Tanah regosol(tanah pasiran) merupakan tanah yang
sangat mudah dan terdapat di atas endapan mineral lunak yang dalam dan tidak
keras. Tanah regosol ini tidak berbatu besar dan terdapat di daerah gumuk pasir
loess. Menurut brady (1982 ), tanah regosol adalah tanah yang sangat muda,
dengan cirri umum perkembangan profil kurang nyata dan perkembanagannya di
tentukan oleh iklim setempat. Jenis tanah ini mempunyai kandungan bahan organic
1,4% dan nitrogen 0,06% ( termasuk rendah)
kandungan air dan lempung ( 6,41%) juga rendah, sehingga penggunaan tanah ini
jika digunakan untuk lahan pertanian agak terbatas.
Sifat-sifat tanah regosol yang lain adalah bertektur
kasar di tentukan oleh bahan induknya, strutur kersai dan rema, permeabilitas
lambat sampai dengan sedang, kapasitas pertukaran kation rendah,
permeabilitasnya rendah di tentukan oleh tektur dan strukturnya. Pengaruh
tekstur terhadap permeabilitas cukup besar dan yang berpegaruh adalah fraksi
pasirnya.
2.6.Perhitungan
Erosi
Persamaan umum kehilangan tanah (PUKT) atau USLE di
kembangkan di USDA- SCS (Unitet State
Department of Agriculture-Soil Conservation Services) bekerja sama dengan Universitas
Purdue oleh Wischmeier
dan Smith, (1965).
Berdasarkan analisis statistic terdapat lebih dari: 10,000 tahun data erosi dan
aliran permukaan, parameter fisik dan pengelolaan di kelompokan menjadi 5 variabel utama.
Para ahli dalam menelaah dan
memperhitungkan terjadinya erosi selalu memanfaatkan lima faktor, soil conservation service USDA(United
States Depertamant Of Agriculture) dan perhitungan ke lima
faktor tersebut dalam menentukan metode
pendugaan besar erosi tanah, dan rumus PUKT ( persamaan umum kehilangan tanah)
dan di kemukakan oleh wischmeier dan smith dalam suresh,(1997) di mana rumus
ini digunakan di Negara-negara lain termasuk Indonesia rumus tersebut adalah:
A
= R.K.L.S.………………………………………………………
Keterangan:
A = banyaknya tanah tererosi per satuan luas per
satuan waktu, yang di nyatakan sesui dengansatuan K dan periode R yang di
pilih, dalam praktek di pakai satuan ton/ha/tahun.
R = faktor
erosivitas hujan dan aliran permukaan, yaitu jumlah satuan indeks erosi
hujan, yang merupakan perkalian antara energy hujan total ( E) dan intensitas
hujan maksimum 30 menit( L30) tahun dalam KJ/ha.
K = faktor erodibilitas tanah , yaitu laju erosi per
indeks erosivitas hujan (R) untuk tanah yang di peroleh dari petak pengamatan
dengan panjang 22x13 m, Dan kemiringan lereng 450 tanpa tanaman,
dalam satuan ton/KJ.
LS = faktor panjang kemiringan lereng, yaitu nisbah
antara besarnya erosi per indeks erosi dari sutu lahan degan panjang dan
kemiringan tanah tertentu terhadap besarnya erosi plot lahan dengan
panjang 22x13 m dan kemiringan 450
di bawah keadaan yang identik, tidak berdimensi.
Besarnya kehilangan tanah akibat erosi, dihitung dengan
menggunakan rumus: A = R. K. LS. Faktor
erosivitas hujan (R), dihitung dengan menggunakan rumus :
R = 6,12 (RAIN)1,21(DAYS)-0,47(MAXP)0,53
Dimana:
R =
erosivitas hujan bulanan
RAIN = curah hujan
rata-rata bulanan (cm)
DAYS =
banyaknya hari hujan setiap bulan (hari)
MAX P= curah
hujan maksimum rata-rata dalam 24 jam perbulan untuk
kurun
waktu satu tahun (cm)
b.
Erodibilitas Tanah (K)
K =
Erodibilitas tanah
M = Parameter ukuran butir tanah diperoleh
dengan rumus (% debu + %
pasir sangat halus) x
(100-%liat)
a = Persentase bahan organik (% C x
1,724)
b = Kode
(nilai) struktur tanah
c = Kode
(nilai) permeabilitas tanah
c.
Faktor Panjang dan kemiringan lereng (LS), dihitung dengan rumus :
L = Panjang
Lereng (m) dan
S = Kemiringan
Lereng.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian Ini Telah di laksanakan Di Desa Eonbesi
Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tenga Selatan.
3.2.Alat
dan
Bahan Penelitian
3.2.1.
Alat
Linggis,
sekop,pacul, meter,terpal, saringan tanah, kamera, alat tulis.
3.2.2.
Bahan
Tanah Berukuran 22 X 13 m Sebanyak 3
Bidang yang berbedah sesuai dengan kemiringan lereng yaitu: 200,300
Dan 450.
3.3.Metode
Penelitian
Metode yang di
gunakan dalam penilitian ini bersifat eksploratif dengan mengguanakan data
priemer dan data sekunder
3.3.1.
Teknik Pengambilan Data
Ø Survei
dan pengukuran langsung
Ø Studi
dokumentasi
3.3.2.
Data Data Yang Di Butuhkan
v Data Primer
v Jumlah
partikel yang tererosi
·
Jumlah tanah yang tererosi pada
keiringan 200
·
Jumlah tanah yang tererosi pada
keiringan 300
·
Jumlah tanah yang tererosi pada
keiringan 450
v Jenis
partikel yang tererosi
·
Tanah sangat halus
·
Pasir halus
·
Debu
v Jenis
vegetasi yang ada pada lahan
·
Rumput
·
Semak
·
Pepohonan
v Data
Sekunder
·
Iklim
·
Curah
hujan
·
Jenis tanah
·
Kondisi
geografis
3.4.Populasi dan Sampel
v Populasi
Populasi
pengolahan tanah primer sistem tebas bakar di desa eonbesi berkisar antara 20%
-30%, dimana para petani bercocok tanam, tetapi mereka tadak mengetahui berapa
banyak tanah yang tererosi setiap tahun pada kemiringan tertentu.
v Sampel
Penelitian
3
lokasi yang berbedah dengan kemiringan 200,300, dan 450
3.5. Teknik Analisis Data
Analisis
yang di gunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan rumus persamaan umum
kehilangan tanah (PUKT) dimana rumus tersebut adalah:
A
= R.K.LS.
Dimana
A =
banyaknya Tanah yang tererosi per satuan luas per satuan waktu
R =
faktor erosivitas hujan dan aliran permukaan
K =
faktor erodibilitas tanah
LS =
Faktor panjang kemiringan lereng.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.Hasil
Pengukuran Erosi
Besar kemiringan lereng akan mempengaruhi laju
kecepatan aliran permukan, samakin curam suatu lereng akan semakin cepat
alirannya, sehingga bisa di artikan kecepatan air yang meresap ke dalam tanah
lebih kecil dan akan memperbesar aliran permukaan, yang akan berakibat pada
besarnya erosi
Tabel 4. Hasil Pengukuran Erosi Di Lapangan
Tabel di bawah ini menunjukan adanya pertambahan erosi yang di akibatkan
oleh pertambahan kemiringan lereng.
Lereng
(-0)
|
L
1m
|
R
(j/m2)
|
EK
(j/m2/mm
|
H
(mm)
|
K
(gr/joule)
|
E
(gr/m2)
|
SF
|
200
300
450
|
22x13
22x13
22x13
|
410,895
410,895
410,895
|
27,393
27,393
27,393
|
15 mm
15 mm
15
mm
|
0,120
0,120
0,120
|
35,53
45,00
65,83
|
0,025
0,025
0,025
|
Keterangan
Hasil
pengukuran erosi pada kemiringan:
·
Pada keimiringan 200,tanah
yang tererosi sebanyak35,33 gram/m2, dengan durasi hujan30 menit,
·
Pada kemiringan 300,
tanah yang tererosi sebanyak 45,00 gram/m2, dengan dusari hujan 30
menit,
·
Pada kemiringan 450,
tanah yang tererosi sebanyak 65,83 gram/m2, dengan dusari hujan 30
menit,
Keterangan:
H = Kedalaman Hujan h =
(vol air/luas)
R = Erosivitas Hujan R =
EK x h
K = Erosivitas Tanah K =
0,120 (Hasil pengamata)
L = Panjang Lereng L =
(L0/22)Z
Sf = Faktor Kemiringan Lereng Sf
= E/(R x K x L)
Tabel di atas menunjukan bahwa pada
kemiringan yang berbeda Erosi yang di hasilkan juga berbeda.
4.2. Perhitungan Erosi Dengan Persamaan Umum Kehilangan Tanah
Untuk mengetahui lebil lanjut nilai erosi hasil PUKT, maka
tabel di bawah di sajikan perhitungan nilai erosi yang merupakan besar laju
kehilangan tanah dengan menggunakan persamaan umum kehilangan tanah.
Tabel .5 (a) Nilai erosi hasil PUKT dengan intensitas 50 mm/jam
Intensitas
(mm/jam)
|
Lereng
(%)
|
L
(Im)
|
S
|
EK
j/m2/mm
|
H
(mm)
|
R
(j/m2)
|
K
(gr/joule)
|
E
(gr/m2)
|
I50
I50
I50
|
39,53
57,74
84,53
|
22 x 13
22x 13
22 x13
|
200
300
450
|
26,702
26,702
26,702
|
15 mm
15 mm
15 mm
|
400,53
400.53
400,53
|
0,120
0,120
0,120
|
40,72
43,00
202,76
|
Keterangan:
Tabel di atas menunjukan bahwa Pada
jenis hujan sedang atau (50 mm) tanah
yang tererosi pada kemiringan:
·
Pada keimiringan 200,
tanah yang tererosi sebanyak 40,72 gram/m2, dengan durasi hujan 30
menit,
·
Pada kemiringan 300,
tanah yang tererosi sebanyak 43,00 gram/m2, dengan dusari hujan 30
menit,
·
Pada kemiringan 450,
tanah yang tererosi sebanyak 202,76 gram/m2, dengan dusari hujan 30
menit,
Tabel 5. (b) Nilai erosi hasil PUKT dengan intensitas 60 mm/jam
Lereng
(%)
|
L
(Im)
|
S
|
EK
j/m2/mm
|
H
(mm)
|
R
(j/m2)
|
K
(gr/joule)
|
E
(gr/m2)
|
|
39,53
57,74
84,53
|
22 x 13
22x 13
22 x13
|
200
300
450
|
27,393
27,393
27,393
|
15 mm
15 mm
15 mm
|
410,895
410,895
410,895
|
0,120
0,120
0,120
|
35,53
45,00
65,83
|
Keterangan:
Tabel di atas menunjukan bahwa Pada
jenis hujan deras atau ( 60 mm) tanah
yang tererosi pada kemiringan:
·
Pada keimiringan 200,
tanah yang tererosi sebanyak 35,53 gram/m2, dengan durasi hujan 30
menit,
·
Pada kemiringan 300,
tanah yang tererosi sebanyak 45,00 gram/m2, dengan dusari hujan 30
menit,
·
Pada kemiringan 450,
tanah yang tererosi sebanyak 65,83 gram/m2, dengandusari hujan 30
menit,
Dari hasil pengukuran
erosi di atas dapat di uraikan sebagai berikut:
v Jumlah hari hujan
Karena
Jumlah hari hujan rata-rata diKabupaten Timor Tengah Selatan adalah 78 hari/
tahun. Maka tingkat erosi yang di hasilkan adalah:
·
Pada kemiringan 200 dapat
menghasilkan erosi sebanyak 5263,6 gram atau 5,2636 ton/ tahun
·
Pada kemiringan 300 dapat
menghasilkan erosi sebanyak 5400 gram atau 5,4 ton/ tahun
·
Pada kemiringan 450 dapat menghasilkan erosi
sebanyak 7899,6 gram atau 7,899,6 ton/ tahun
v Iklim.
Iklim
di Kabupaten Timor Tengah Selatan Beriklim Tropis
v curah hujan
pertahun
750 mm/tahun. Rata-rata hari hujan sebesar 78 hari/ tahun
v Jenis tanah
Jenis
tanah yang berada pada lokasi pengukuran erosi adalah jenis tanah regosol kelabu
v kondisi geografis.
Kondisi
geografis di kabupaten Timor tengah
selatan terletak pada 9026-10010 LS dan 124’49,01- 124,04,00,, BT
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan
Dari
pembahasan di atas simpulkan bahwa laju kehilangan tanah yang terjadi besarnya
tidak sama, walaupun durasi hujannya sama tetapi hasil tanah yang tererosi
tidak sama, hal ini di sebabkankarena faktor tingkatkemiringan lerengnya tidak
sama.Hasilnya sebagai berikut:
1. Pada
kemiringan 200 di dapat erosi terukur sebesar 35,33 gram/m2
2. Pada
kemiringan 300 didapat erosi terukur sebesar 45,00 gram/m2
3. Pada
kemiringan 450 di dapat erosi terukur sebesar 65,83 gram/m2
5.2.
Saran
Peneliti mengharapkan
agar pemerintah daerah, petani atau pihak-pihak terkait lebih fokus dalam
memperhatikan erosi dalam pengolahan tanah, karena dimana lereng yang semakin
curam maka tanah yang tererosi semakin banyak, oleh karena itu di harapkan
kepada pihak pertanian untuk memberikan banyak motifasi kepada petani agar
melakukan teknik-teknik konservasi tanah dalam pengolahan lahan pertanian.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. . (2007) Erosi. IPB Press Bogor
Arysad.
. (1982), klasifikasi intensitas curah hujan.IPB Press
Bogor
Anoim, . (2007) proses
terjadinya erosi.IPB Press Bogor
Arsyad, S. . (1989).
Konservasi air dan tanah IPB Press bogor
Coster,
dan arsyad. (1982) sifat-sifat tanah
regosol.jakarta
Handjo wigeno. (1995) bentuk erosi atau jenis-jenis erosi. Jakarta
Hardjo
wigeno. (1995), faktor-faktor yang mempengaruhi erosi. jakarta
Middleton
dan cook. (1936) Kepekaan erosi tanah ‘’
soil erosivity” Jakarta
Wudianto.R, (2000). intensitas curah hujan.jakarta
wischmeleier
dalam suripin. Yokyakarta (2001).proses penghancuran tanah permukaan.
wischmeier
dan smit. (1982) Persamaan umum kehilangan tanah (PUKT) atau USLE di kembangkan
di USDA- SCS ( Unitet state department of agriculture-soil conservation
services)