Kamis, 11 Februari 2016

CONTOH SKRIPSI EROSI DAUD TFUAKANI UNKRIS 2015



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Erosi adalah suatu perubahan bentuk batuan, tanah atau lumpur yang disebabkan oleh kekuatan air hujan . Angin yang berhembus kencang terus-menerus dapat mengikis batuan di dinding-dinding lembah. Di daerah tropis basah, media penyebab erosi yang umum adalah air (Anonim, 2007).
Secara umum dapat dikatakan bahwa erosi merupakan proses terlepasnya butiran tanah dari induknya disuatu tempat dan terangkutnya material tersebut oleh gerakan air atau angin, kemudian diikuti dengan pengendapan material yang terangkut di tempat yang lain. Bahaya erosi banyak terjadi di daerah kering terutama yang memiliki kemiringan lereng sekitar 15% atau lebih. Keadaan ini sebagai akibat dari pengelolaan tanah dan air yang keliru, tidak mengikuti kaidah- kaidah konservasi tanah dan air (Kodoatie, 2010 : 162).
Air hujan yang menimpa tanah-tanah terbuka akan menyebabkan tanah terdispersi. Sebagian dari air hujan yang jatuh tersebut akan mengalir di atas permukaan tanah. Banyaknya air hujan yang mengalir diatas permukaan tanah tergantung pada hubungan antara jumlah dan intensitas hujan dengan kapasitas infiltrasi tanah dan kapasitas penyimpanan air tanah. Kekuatan perusak air yang mengalir diatas permukaan tanah akan semakin besar dengan semakin curam dan makin panjang lereng permukaan tanah.Tumbuh-tumbuhan yang hidup diatas permukaan tanah dapat memperbaiki kemampuan tanah menyerap air dan memperkecil kekuatan perusak butir-butir hujan yang jatuh, dan daya dispersi dan angkut aliran air di atas permukaan tanah. Perlakuan atau tindakan-tindakan yang diberikan manusia terhadap tanah dan tumbuh-tumbuhan di atasnya akan menentukan apakah tanah itu akan menjadi baik dan produktif atau menjadi rusak (Arsyad, 1983).
Daerah Mollo adalah daerah pegunungan yang beriklim tropis, di mana daerah pegunungan sangat mudah mengalami erosi, hal inilah yang mendorong saya untuk melakukan penelitian di daerah Mollo untuk mencari tahu tingkat erosi dengan tingkat kemiringan 450 dengan kondisi tanah yang ada di Desa Eonbesi,Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan dan yang terpenting untuk melakukan penelitian ini adalah dengan adanya cara bertani yang tidak memperhatikan kondisi tanah yang mudah tererosi, pengolahan tanah tanpa memperhitungkan akan adanya erosi, dan yang terburuk adalah tidak adanya sistem konservasi tanah.dari situlah saya ter’inspirasi untuk melakukan identifikasi atau perhitungan erosi langsung di lapangan.
Ada satu hal terpenting yang mendorong saya untuk semangat dalam penelitian ini adalah belum adanya penelitian yang berhubungan dengan erosi lahan di Desa Eonbesi Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan.Dari dasar pemikiran diatas, maka peneliti tertarik mengambil judul Penelitian:’’Studi Tingat Erosi Lahan di Desa Eonbesi Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan’’.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas diperoleh rumusan masalah yaitu bagaimana tingkat erosi di Desa Eonbesi Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan.
1.3.Batasan Masalah
Penelitian ini di lakukan di desa Eonbesi Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan.pada lahan yang telah dilakukan pengolahan tanah primer.
1.4.Tujuandan Manfaat                                       
1.4.1.Tujuan
Adapun tujuan dalam penelitian Ini, adalah untuk mengetahui tingkat erosi pada lahan yang telah di lakukan Pengolahan Tanah Primer Di Desa Eonbesi Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan
1.4.2.Manfaat
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai bahan informasi dan bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah,petani ataupun pihak-pihak yang membutuhkan informasi tentang tingkat erosi yang terjadi sehingga dapat dengan mudah menentukan pola pertanian serta penerapan teknik-teknik konservasi tanah dan air pada lahan pertaniannya.
               
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Erosi
Erosi tanah melalui tiga tahap, yaitu tahap(1) pelepasan partikel tunggal dari massa tanah dan tahap (2) pengangkutan oleh media yang erotif seperti aliran air dan angin pada kondisi di mana energi yang tersedia tidak lagi cukup untuk mengangkut partikel, maka akn terjadi tahap (3) yaitu pengendapan( Suripin,2001).
Menurut wudianto(2000). Erosi bisa terjadi apabilah intensitas hujan yang turun lebih tinggi di banding kemampuan tanah untuk menyerap air hujan.Prosesnya di mulai dari penghancuran agregat tanah dan pelepasan partikel di lanjutkan pengangkutan tanah oleh aliran air, dan terakhir adalah pengendapan tanah akibat aliran air tidak mampu lagi mengangkut tanah.
Menurut meyer dan wischmeleier dalam suripin(2001), proses terjadinya erosi di suatu lereng di hancurkan dahulu oleh curah hujan dan aliran permukaan, setelah tanah hancur baru di angkut ke tempat lain oleh air hujan dan aliran permukaan.
Pada suatu lereng terdapat input tanah yang dapat di erosi yang berasal dari tanah bagian atas lereng serta pelepas tanah oleh curah hujan dan aliran permukaan. Selain itu terdapat autput akibat pengangkutan tanah oleh curahan air hujan dan aliran permukaan. Bisa di artikan jika total patikel tanah yang terlepas lebih kecil dari total kapasitas pengangkutan( tanah terlepas< kapasitas angkut). Maka akan terjadi erosi. Sebaliknya jika total partikel tanah yang terlepas tersebut lebih besar dari total kapasitas pengangkutan( tanah terlepas> kapasitas angkut) maka akan terjadi pengendapan di bagian lereng tersebut.
Menurut baver dalam kartasapoetra, dkk. (1985), terjadinya erosi tanah tergantung pada (a) sifat-sifat hujan,(b) kemiringan lereng,(c) vegetasi, dan (d) kemampuan tanah untuk menahan air, serta mengisap air dan menginfiltrasikan ke lapisan-lapisan tanah bagian dalam.
Kusumastuti(1994), dalam penelitian menjelaskan, bahwa intensitas dan kemiringan lereng merupakan parameter yang berpegaruh besar terhadap kwantitas erosi. Pada kemiring lereng yang sama, Intensitas hujan meningkat, akan mengakibatkan peningkatan erosi. Begitu juga sebaliknya pada intensitas hujan yang sama, sudut kemiringan lereng meningkat, juga akan di ikuti peningkatan erosi.
Banuwa (2001) dalam penelitian menjelaskan, intensitas hujan dan kemiringan lereng sangat nyata mempengaruhi dinamika aliran permukaan dan erosi.Semakin besar itensitas hujan maka energi tumbuk butir-butir hujan semakin besar, sehingga kemampuan untuk memecah agregat tanah semakin besar. Begitu juga kedalam hujan (volume hujan) dan kecepatan aliran yang di akibatkan oleh kemiringan lereng juga mempercepat aliran permukaan, sehingga kapasitas transportasinya untuk membawa bahan-bahan tanah semakin besar yang gilirannya juga akan memperbesar erosi. Dari penelitiannya juga menyimpulkan peningkatan intensitas hujan 1mm/jam menyebabkan peningkatan kedalaman hujan 0,03-0,23mm dan erosi 0,02-0,31 ton/ha
2.2. Bentuk-bentuk Erosi
Bentuk-bentuk erosi yang di temukan oleh hardjowigena(1995) mengatakan erosi di bedakan menjadi dua macam yaitu erosi geologi( geological erosion) dan erosi di percepat (accelerated erosion) erosi giologi merupakan erosi yang berjalan sangat lambat di mana jumlah tanah yang tererosi sama dengan jumlah tanah yang terbentuk  dan tidak berbahaya karena terjadi dalam keseimbangan alami, sedangakan erosi dipercepat merupakan erosi yang di percepat, hal ini di sebabkan oleh kegiatan manusia yang mengganggu keseimbangan alam, jumlah tanah yang tererosi lebih banyak dari pada tanah yang terbantuk sehingga tanah di permukaan( TOP SOIL) menjadi hilang.
Menurut Handjowigeno(1995), bentuk erosi atau jenis-jenis erosi di paparkan sebagai berikut:
1.      Pelarutan, terjadi pada tanah kapur yang mudah di larutkan air sehingga di daerah kapur sering di temukan sungai-sungai di bawah tanah.
2.      Erosi percikan, (splash erosion), curah hujan yang jatuh langsung ke tanah dapat melempar butir-butir tanah ke udara sampai beberapa cm tergantung diameter butiran hujan dan kondisi lahan, di daerah yang berlereng tanah yang terlempar tersebut jatuh ke lereng di bawahnya.
3.      Erosi lembar (sheet erosion), peindahan tanah terjadi lembar demi lembar, lapis demi lapis mulai dari lapis paling atas. Erosi ini sepintas tidak terlihat, karena kehilangan lapisan-lapisan tanah seragam, tetapi dapat berbahaya karena pada suatu saat seluruh top soil akan habis.
4.      Erosi alur(riil erosion), erosi ini di mulai dari genangan-genangan kecil setempat di suatu lereng, maka bila air dalam genangan tersebut mengalir, terbentuklah alur-alur bekas aliran air tersebut. Alur-alur tersebut mudah di hilangkan dengan pengolahan tanah biasa.
5.      Erosi gully(gully erosion), erosi ini merupakan lanjutan dari erosi alur, karena alur yang terus- menerus di gerus oleh aliran air terutama daerah-daerah yang banyak hujan, maka alur-alur tersebut menjadi dalam dan lebar yang mengakibatkan oleh aliran air yang kuat. Alur-alur tersebut tidak dapat hilang dengan pengolahan tanah biasa.
6.      Erosi parit(channel erosion), parit-parit yang besar sering masih terus mengalir lama setelah hujan berhenti, aliran air dalam parit ini dapat mengikis dasar parit atau dinding-dinding(tebing) parit di bawah permukaan air, sehingga tebing di atasnya dapat runtuh ke dasar parit.
7.      Longsor, tanah longsor terjadi karena gaya gravitasi, biasa di bagian bawah tanah terdapat lapisan licin dan kedap air(sukar di tembus air) seperti batuan liat. Saat musim hujan tanah di atasnya menjadi jenuh air, sehigga tanah menjadi lebih berat dan akan bergeser ke bawah melalui lapisan yang licin tersebut sebagai tanah longsor.Curah hujan yang lama dengan intensitas yang besar dapat memberikan efek erosi yang besar dalam kondisi ini tanah telah jenuh air dan akan mengalirkanair melalui perukaan tanah.
2.3.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Erosi
Banyak faktor yang mempengaruhi besarnya erosi, menurut hardjowigeno(1995), ada 5 faktor yag mempengaruhi besarnya erosi tersebut antara lain (1) curah hujan, (2) kepekaan tanah,( 3) lereng, (4) vegetasai, (5) manusia.
2.3.1. Curah Hujan
               Sifat-sifat hujan yang perlu di perhatikan dalam hal ini adalah butiran hujan, intensitas hujan, jumlah hujan, dan distribusi hujan. Butiran hujan sangat berfariasi, dalam penelitian ini bitiran hujan akan di ambi diameter 1mm-6mm. menurut Arsyad (1982), butiran hujan akan mendapat tahanan udara sehingga butiran akan pecah menjadi lebih kecil, inilah sebabnya butiran hujan pada umumnya diameternya tidak lebih dari 7mm,yang jelas butiran hujan akan berpengaruh terhadap kecepatan jatuhnya, semakin besar diameter butiran hujan berarti kecepatan jatuh butiran juhan meningakat. Besarnya butiran hujan adalah volume air yang jatuh pada suatu areal tertentu, oleh arena itu besarnya curah hujan dapat di nyatakan dalam tinggi air yaitu milli meter(mm).
Intensitas hujan akan menunjukan tingginya curah hujan per satuan waktu, yang mana di nyatakan dalam mm/jam atau cm/jam. Jumlah hujan akan menunjukan banyaknya air hujan selama terjadi hujan selama kurun waktu tertentu, sedangkan distribusi hujan akan menunjukan penyebaran waktu terjadinya hujan.Sifat-sifat hujan tersebut yang besar pengaruhnya terhadap erosi adalah intensitas hujan. Menurut Arysad (1982), intensitas hujan dapat diklasifikasikanseperti Tabel di bawah ini.
Tabel 1. Klasifikasi Intensitas Hujan
Intensitas(mm/jam)
Klasifikasi
0-5
Sangat kecil
6-10
Kecil
11-25
Sedang
26-50
Agak besar
51-75
Besar
>75
Sangat besar
2.3.2.Kepekaan Tanah
               Bennet, dalam Arsyad (1982) adalah merupakan orang pertama yang mengemukakan adanya perbedaan kepekaan untuk tanah tererosi, dari berbagai jenis tanah yang berbeda. Kepekaan erosi tanah dalam bahasa Inggris dinyatakan sebagai soil erosivity” oleh Middleton(1930) dan oleh Cook (1936) di sebut soil erodibility”. Middleton merupakan orang pertama yang menyajikan indeks erodibitas tanah berdasarkan data analisa laboratorium. Tanah di lapangan di bedakan menjadi tanah peka terhadap erosi dan tanah tahan terhadap erosi, sifat-sifat tanah yang mempengaruhi kepekaan tanah terhadap erosi antara lain, tekstur tanah, bentuk dan kemantapan tekstur  tanah, kapasitas infiltrasi atau perbeabilitas tanah, dan kandungan bahan organik.
Tekstur tanah, tanah dengan tekstur yang kasar akan tahan terhadap erosi karena butiran tanahnya besar sehingga memerlukan beban yang besar pula dalam pengangkutannya. Tanah dengan tekstur halus seperti tanah liat juga tahan terhadap erosi karena daya kohesinya kuat, sehingga gumpalannya sukar di hancurkan.Sedangkan tekstur tanah yang paling peka terhadap erosi adalah debu (0,002-0.05mm) dan pasir yang sangat halus (0.5-0.01mm), makin tinggi kandungan debu dalam tanah maka makin peka tanah itu terhadap erosi.
Bentuk tektur tanah yang memebulat seperti: granuler, remeh, dan gumpal membulat akan menghasilkan tanah dengan porositas tinggi sehingga air mudah meresap ke dalam tanah dan aliran permukaan menjadi kecil. Untuk struktur tanah yang tidak mantap maka akan mudah hancur menjadi butiran halus jika terkena pukulan air hujan, yang akhirnya menyumbat pori-pori tanah yang akibatnya aliran permukaan meningkat, sehingga aliran permukaan meningkat.
Kapasitas infiltrasi tanah yang besar, menunjukan air mudah meresap ke dalam tanah, sehingga aliran perukaan menjadi kecil, akibatnya erosi juga kecil. Kapasitas infiltrasi tanah ini di pengaruhi oleh porositas dan kemantapan tekstur tanahnya. Sedangkan kandungan bahan organik tanah akan menentukan kepekaan tanah terhadap erosi, tanah yang cukup mengandung bahan organik umumnya tekstur tanahnya menjadi mantap, sehingga tahan terhadap erosi.
Bahan organik pada umumnya di temukan di lapisan tanah bagian atas (top soil)menurut Suripin(2001), jumlah bahan organik  ini tidak besar kurang lebih berkisar 3% samapai 5%, namun hal ini sangat memegang peranan penting dalam menentukan sifat-sifat tanah.
Coster, dalam Arsyad(1982) dalam penelitiannya di berbagai tempat di pulau jawa menunjukan bahwa tanah regosol dari bahan volkan dan tanah grumosol dari bahan induk mergel merupakan tanah yang peka erosi di bandingkan dengan tanah andosol atau tanah latosol yang terbentuk dari volkan. Penetapan kepekaan erosi berbagai tanah secara nisbi dari pengamatan lapangan adalah sulit, suatu tanah yang mempunyai suatu kepekaan rendah mungkin akan mengalami erosi yang berat jika tanah tersebut terletak pada lereng yang curam dan panjang serta dengan curah hujan dengan intensitas yang selalu tinggi. Sebaliknya suatu tanah yang kepekaan erosi tinggi, mungkin memperlijatkan gejala erosi yang rendah atau tidak perlihatkan adanya erosi jika terdapat pada lereng yang landai, dengan tanaman penutup tanah yang baik dan hujan yang tidak berintensitas tinggi.
Menurut Hardjowigeno (1995), makin tinggi nilai faktor erodibitas tanah (k), tanah makin peka terhadap erosi. Di bawa disajikan table nilai factor erodibilitas tanah (k) untuk beberapa jenis tanah di Indonesia.


Tabel 2. Nilai Erodilitas(K) untuk Beberapa Jenis Tanah di Indonesia
No
Jenis Tanah
Nilai K
1
Latosol(oxic sub group)
0,02 gram/joule
2
Mediteran merah kuning(alfisol)
0,05 gram/joule
3
Mediteral(alfisol)
0,21 gram/joule
4
Podsolid merah kuning( ultisol)
0,15 gram/joule
5
Regosol(inceptisol,entisol)
0,11 gram/joule
6
Grumosol( vertisol)
0,24 gram/joule

Untuk mendapatkan nilai K denga cara pengukuran erosi dan curah hujan dilapangan akan memakan waktu dan biaya yang mahal, maka Wischmeier (1969), menggunakan suatu cara dalam pendugaan nilai faktor K dengan memakai 5 parameter, yaitu:
1.      Kandungan debu (%) + kandungan pasir sangat halus (0,05-0,10mm),
2.      Kandungan pasir, prosen pasir (0,10-0,2,0mm),
3.      Tanah, kandungan bahan organic (0) dalam %,
4.      Struktur tanah S dan,
5.      Perbeabilitas tanah (P)




2.3.3.Lereng
Lereng yang semakin curam dan semakin panjang akan meningkatkan besarnya erosi, jika lereng semakin curam maka kecepatan aliran permukaan meningkat sehingga daya angkutnya juga meningkat. Lereng yang semakin panjang,berarti volume air yang mengalir semakin besar. Sehingga kecepatan aliran juga semakin besar dan beda yang bisa di angkut akan lebih banyak.Tabel 3.di bawah menunjukan besarnya erosi dari kemiringan tanah yang ada dengan curah hujan500mm dan lamanya 164 jam.
Table 3. Pengaruh Kemiringan Tanah terhadap Erosi(curah hujan 500mm, lamanya 164 jam)
Kemiringan tanah (%)
Erosi (ton/ha)
Pertambahan erosi (%)
5
33,25
0,00
10
100,25
201,5
15
167,75
67,33
20
228,25
36,06
       Sumber: warnet
2.4.Sifat Umum Tanah
Tanah menurut bahan asalnya dapat di bagi menurut dua kelompok, yaitu tanah mineral tanah organik.Tanah mineral berasal dari sisa- sisa tanaman maupun hewan telah mati.(Abdullah,1993). Sedangkan Hardjowigeno (1995), mengatakan tanah merupakan kumpulan dari benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horizon-horison, terdiri dari campuran  media untuk tumbuhnya tanaman .
Tanah merupakan bahan atau material  yang tidak homogen dan terdiri dari berbagai parikel padat dan rongga ( pori-pori). Padat partikel di antaranya berupa butiran-butiran sedangkan pori-pori tanah berupa udara, air atau campuran udara dan air. Nama butiran atau istilah kerikil, pasir, lanau dan lempeng di gunakan untuk menggambarkan ukuran partikel pada batas tanah yang telah di tentukan, kebanyakan jenis tanah terdiri dari banyak lebih dari satu macam ukuran partikel, begitu juga istilah atau nama-nama tanah yang di gunakan banyak sekali jenisnya dan satu di anataranya adalah jenis tanah regosol kelabu dan jenis tanah ini yang di gunakan dalam penelitian.
2.5.Sifat-Sifat Tanah Regosol Kelabu
Dalam cerita kuno sering di katakan bahwa bumi nusantara ini adalah  tanah yang subur gemah ripah lohjinawi, hal ini tidak semuanya benar, karena dalam kenyataannya masih banyak juga tanah yang tidak subur yang sering di sebut tanah marginal, tanah yang demikian rendah kandungan unsure haranya dan bereaksi masam. Tanah yang subur pada umumnya tanah-tanah berasal dari gunung berapi atau bahan aluvial baru.
Jenis-jenis tanah (great group) menurut sistem pusat penelitian tanah (dalam Ilmu Tanah Hardjowigeno, 1995) meliputi: argonosol,litosol, rendsina, grumosol, greisol, aluvial, arenosol, andosol, latosol, brunizem, kambisol, nitosol, podsolik, mediteran, planosol, podsol, oksisol dan regosol.
Tanah regosol(tanah pasiran) merupakan tanah yang sangat mudah dan terdapat di atas endapan mineral lunak yang dalam dan tidak keras. Tanah regosol ini tidak berbatu besar dan terdapat di daerah gumuk pasir loess. Menurut brady (1982 ), tanah regosol adalah tanah yang sangat muda, dengan cirri umum perkembangan profil kurang nyata dan perkembanagannya di tentukan oleh iklim setempat. Jenis tanah ini mempunyai kandungan bahan organic 1,4%  dan nitrogen 0,06% ( termasuk rendah) kandungan air dan lempung ( 6,41%) juga rendah, sehingga penggunaan tanah ini jika digunakan untuk lahan pertanian agak terbatas.
Sifat-sifat tanah regosol yang lain adalah bertektur kasar di tentukan oleh bahan induknya, strutur kersai dan rema, permeabilitas lambat sampai dengan sedang, kapasitas pertukaran kation rendah, permeabilitasnya rendah di tentukan oleh tektur dan strukturnya. Pengaruh tekstur terhadap permeabilitas cukup besar dan yang berpegaruh adalah fraksi pasirnya.
2.6.Perhitungan Erosi
Persamaan umum kehilangan tanah (PUKT) atau USLE di kembangkan di USDA- SCS (Unitet State Department of Agriculture-Soil Conservation Services) bekerja sama dengan Universitas Purdue oleh Wischmeier dan Smith, (1965). Berdasarkan analisis statistic terdapat lebih dari: 10,000 tahun data erosi dan aliran permukaan, parameter fisik dan pengelolaan  di kelompokan menjadi 5 variabel utama.
Para ahli dalam menelaah dan memperhitungkan terjadinya erosi selalu memanfaatkan lima faktor,  soil conservation service USDA(United States  Depertamant Of  Agriculture) dan perhitungan ke lima faktor  tersebut dalam menentukan metode pendugaan besar erosi tanah, dan rumus PUKT ( persamaan umum kehilangan tanah) dan di kemukakan oleh wischmeier dan smith dalam suresh,(1997) di mana rumus ini digunakan di Negara-negara lain termasuk Indonesia rumus tersebut adalah:
A = R.K.L.S.………………………………………………………
Keterangan:
A = banyaknya tanah tererosi per satuan luas per satuan waktu, yang di nyatakan sesui dengansatuan K dan periode R yang di pilih, dalam praktek di pakai satuan ton/ha/tahun.
R = faktor   erosivitas hujan dan aliran permukaan, yaitu jumlah satuan indeks erosi hujan, yang merupakan perkalian antara energy hujan total ( E) dan intensitas hujan maksimum 30 menit( L30) tahun dalam KJ/ha.
K = faktor erodibilitas tanah , yaitu laju erosi per indeks erosivitas hujan (R) untuk tanah yang di peroleh dari petak pengamatan dengan panjang 22x13 m, Dan kemiringan lereng 450 tanpa tanaman, dalam satuan ton/KJ.
LS = faktor panjang kemiringan lereng, yaitu nisbah antara besarnya erosi per indeks erosi dari sutu lahan degan panjang dan kemiringan tanah tertentu terhadap besarnya erosi plot lahan dengan panjang  22x13 m dan kemiringan 450 di bawah keadaan yang identik, tidak berdimensi.
Besarnya kehilangan tanah akibat erosi, dihitung dengan menggunakan    rumus:    A = R. K. LS. Faktor erosivitas hujan (R), dihitung dengan menggunakan rumus :
R = 6,12 (RAIN)1,21(DAYS)-0,47(MAXP)0,53    
Dimana:
R         =  erosivitas hujan bulanan
RAIN  = curah hujan rata-rata bulanan (cm)
DAYS =  banyaknya hari hujan setiap bulan (hari)   
MAX P= curah hujan maksimum rata-rata dalam 24 jam perbulan untuk
kurun  waktu satu tahun (cm)
b. Erodibilitas Tanah (K)
K         = Erodibilitas tanah
M         = Parameter ukuran butir tanah diperoleh dengan rumus (% debu + %
pasir   sangat halus) x (100-%liat)
            a          = Persentase bahan organik (% C x 1,724)
b          =  Kode (nilai) struktur tanah
c          = Kode (nilai) permeabilitas tanah

c. Faktor Panjang dan kemiringan lereng (LS), dihitung dengan rumus  :
L          = Panjang Lereng (m) dan
S          = Kemiringan Lereng.
















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian Ini Telah di laksanakan Di Desa Eonbesi Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tenga Selatan.
3.2.Alat dan Bahan Penelitian                    
3.2.1. Alat
Linggis, sekop,pacul, meter,terpal, saringan tanah, kamera, alat tulis.
3.2.2. Bahan
            Tanah Berukuran 22 X 13 m Sebanyak 3 Bidang yang berbedah sesuai dengan kemiringan lereng yaitu: 200,300 Dan 450.
3.3.Metode Penelitian
Metode yang di gunakan dalam penilitian ini bersifat eksploratif dengan mengguanakan data priemer dan data sekunder
3.3.1. Teknik Pengambilan Data
Ø  Survei dan pengukuran langsung
Ø  Studi dokumentasi


3.3.2. Data Data Yang Di Butuhkan
v  Data Primer
v  Jumlah partikel yang tererosi
·         Jumlah tanah yang tererosi pada keiringan 200
·         Jumlah tanah yang tererosi pada keiringan 300
·         Jumlah tanah yang tererosi pada keiringan 450
v  Jenis partikel yang tererosi
·         Tanah sangat halus
·         Pasir halus
·         Debu
v  Jenis vegetasi yang ada pada lahan
·         Rumput
·         Semak
·         Pepohonan
v  Data Sekunder
·         Iklim
·         Curah hujan
·         Jenis tanah
·         Kondisi geografis

3.4.Populasi dan Sampel
v  Populasi
Populasi pengolahan tanah primer sistem tebas bakar di desa eonbesi berkisar antara 20% -30%, dimana para petani bercocok tanam, tetapi mereka tadak mengetahui berapa banyak tanah yang tererosi setiap tahun pada kemiringan tertentu.
v  Sampel Penelitian
3 lokasi yang berbedah dengan kemiringan 200,300, dan 450
3.5. Teknik Analisis Data
Analisis yang di gunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan rumus persamaan umum kehilangan tanah (PUKT) dimana rumus tersebut adalah:
A = R.K.LS.
Dimana
A   = banyaknya Tanah yang tererosi per satuan luas per satuan waktu
R   = faktor erosivitas hujan dan aliran permukaan
K   = faktor erodibilitas tanah
LS = Faktor panjang kemiringan lereng.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.Hasil Pengukuran Erosi
Besar kemiringan lereng akan mempengaruhi laju kecepatan aliran permukan, samakin curam suatu lereng akan semakin cepat alirannya, sehingga bisa di artikan kecepatan air yang meresap ke dalam tanah lebih kecil dan akan memperbesar aliran permukaan, yang akan berakibat pada besarnya erosi
Tabel 4. Hasil Pengukuran Erosi Di Lapangan
Tabel di bawah ini menunjukan  adanya pertambahan erosi yang di akibatkan oleh pertambahan kemiringan lereng.
Lereng
(-0)
L
1m
R
(j/m2)
EK
(j/m2/mm
H
(mm)
K
(gr/joule)
E
(gr/m2)
SF
200
300
450
22x13
22x13
22x13
410,895
410,895
410,895
27,393
27,393
27,393
15 mm
15 mm
15 mm
0,120
0,120
0,120
35,53
45,00
65,83
0,025
0,025
0,025
Keterangan
Hasil pengukuran erosi pada kemiringan:
·         Pada keimiringan 200,tanah yang tererosi sebanyak35,33 gram/m2, dengan durasi hujan30 menit,
·         Pada kemiringan 300, tanah yang tererosi sebanyak 45,00 gram/m2, dengan dusari hujan 30 menit,
·         Pada kemiringan 450, tanah yang tererosi sebanyak 65,83 gram/m2, dengan dusari hujan 30 menit,
Keterangan:
H   = Kedalaman Hujan                      h    = (vol air/luas)      
R   = Erosivitas Hujan                         R   = EK x h
K   = Erosivitas Tanah                        K  = 0,120 (Hasil pengamata)
L   = Panjang Lereng                          L  = (L0/22)Z
Sf   = Faktor Kemiringan Lereng        Sf   = E/(R x K x L)
Tabel di atas menunjukan bahwa pada kemiringan yang berbeda Erosi yang di hasilkan juga berbeda.
4.2. Perhitungan Erosi Dengan Persamaan Umum Kehilangan Tanah
Untuk mengetahui lebil lanjut nilai erosi hasil PUKT, maka tabel di bawah di sajikan perhitungan nilai erosi yang merupakan besar laju kehilangan tanah dengan menggunakan persamaan umum kehilangan tanah.






Tabel .5 (a) Nilai erosi hasil PUKT dengan intensitas 50 mm/jam
Intensitas
(mm/jam)
Lereng
(%)
L
(Im)
S
EK
j/m2/mm
H
(mm)
R
(j/m2)
K
(gr/joule)
E
(gr/m2)
I50
I50
I50
39,53
57,74
84,53
22 x 13
22x 13
22 x13
200
300
450
26,702
26,702
26,702
15 mm
15 mm
15 mm
400,53
400.53
400,53
0,120
0,120
0,120
40,72
43,00
202,76
Keterangan:
Tabel di atas menunjukan bahwa Pada jenis hujan sedang atau (50 mm)  tanah yang tererosi pada kemiringan:
·         Pada keimiringan 200, tanah yang tererosi sebanyak 40,72 gram/m2, dengan durasi hujan 30 menit,
·         Pada kemiringan 300, tanah yang tererosi sebanyak 43,00 gram/m2, dengan dusari hujan 30 menit,
·         Pada kemiringan 450, tanah yang tererosi sebanyak 202,76 gram/m2, dengan dusari hujan 30 menit,
Tabel 5. (b) Nilai erosi hasil PUKT dengan intensitas 60 mm/jam

Lereng
(%)
L
(Im)
S
EK
j/m2/mm
H
(mm)
R
(j/m2)
K
(gr/joule)
E
(gr/m2)
39,53
57,74
84,53
22 x 13
22x 13
22 x13
200
300
450
27,393
27,393
27,393
15 mm
15 mm
15 mm
410,895
410,895
410,895
0,120
0,120
0,120
35,53
45,00
65,83


Keterangan:
Tabel di atas menunjukan bahwa Pada jenis hujan deras atau ( 60 mm)  tanah yang tererosi pada kemiringan:
·         Pada keimiringan 200, tanah yang tererosi sebanyak 35,53 gram/m2, dengan durasi hujan 30 menit,
·         Pada kemiringan 300, tanah yang tererosi sebanyak 45,00 gram/m2, dengan dusari hujan 30 menit,
·         Pada kemiringan 450, tanah yang tererosi sebanyak 65,83 gram/m2, dengandusari hujan 30 menit,
Dari hasil pengukuran erosi di atas dapat di uraikan sebagai berikut:
v  Jumlah hari hujan
Karena Jumlah hari hujan rata-rata diKabupaten Timor Tengah Selatan adalah 78 hari/ tahun. Maka tingkat erosi yang di hasilkan adalah:
·         Pada kemiringan 200 dapat menghasilkan erosi sebanyak 5263,6 gram atau 5,2636 ton/ tahun
·         Pada kemiringan 300 dapat menghasilkan erosi sebanyak 5400 gram atau 5,4 ton/ tahun
·         Pada kemiringan  450 dapat menghasilkan erosi sebanyak 7899,6 gram atau 7,899,6 ton/ tahun

v  Iklim.
Iklim di Kabupaten Timor Tengah Selatan Beriklim Tropis
v  curah hujan
pertahun 750 mm/tahun. Rata-rata hari hujan sebesar 78 hari/ tahun
v  Jenis tanah
Jenis tanah yang berada pada lokasi pengukuran erosi adalah jenis tanah  regosol kelabu
v   kondisi geografis.
Kondisi geografis di kabupaten  Timor tengah selatan terletak pada 9026-10010 LS dan 12449,01-    124,04,00,, BT









BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan
Dari pembahasan di atas simpulkan bahwa laju kehilangan tanah yang terjadi besarnya tidak sama, walaupun durasi hujannya sama tetapi hasil tanah yang tererosi tidak sama, hal ini di sebabkankarena faktor tingkatkemiringan lerengnya tidak sama.Hasilnya sebagai berikut:
1.      Pada kemiringan 200 di dapat erosi terukur sebesar 35,33  gram/m2
2.      Pada kemiringan 300 didapat erosi terukur sebesar 45,00 gram/m2
3.      Pada kemiringan 450 di dapat erosi terukur sebesar 65,83  gram/m2
5.2. Saran
Peneliti mengharapkan agar pemerintah daerah, petani atau pihak-pihak terkait lebih fokus dalam memperhatikan erosi dalam pengolahan tanah, karena dimana lereng yang semakin curam maka tanah yang tererosi semakin banyak, oleh karena itu di harapkan kepada pihak pertanian untuk memberikan banyak motifasi kepada petani agar melakukan teknik-teknik konservasi tanah dalam pengolahan lahan pertanian.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. . (2007)  Erosi. IPB Press Bogor
Arysad. . (1982),   klasifikasi intensitas curah hujan.IPB Press Bogor
Anoim, . (2007)   proses terjadinya erosi.IPB Press Bogor
Arsyad, S. .  (1989).  Konservasi air dan tanah IPB Press bogor
Coster, dan arsyad. (1982)  sifat-sifat tanah regosol.jakarta
 Handjo wigeno. (1995)   bentuk erosi atau jenis-jenis erosi. Jakarta
Hardjo wigeno. (1995), faktor-faktor yang mempengaruhi erosi. jakarta
Middleton dan cook. (1936)  Kepekaan erosi tanah ‘’ soil erosivity” Jakarta
Wudianto.R, (2000). intensitas curah hujan.jakarta                                             
wischmeleier dalam suripin. Yokyakarta (2001).proses penghancuran tanah permukaan.
wischmeier dan smit. (1982) Persamaan umum kehilangan tanah (PUKT) atau USLE di kembangkan di USDA- SCS ( Unitet state department of agriculture-soil conservation services)